STIKMA Internasional
NIM. 22112605
Program Studi Teknik Informatika
Sekolah Tinggi Teknologi STIKMA Internasional Malang
Mengapa edukasi pencegahan cyberbullying di TikTok sangat penting?
Lebih dari 5,59 miliar orang menggunakan media sosial di seluruh dunia (mencakup lebih dari setengah populasi bumi).
Kemajuan teknologi memberikan dampak ganda:
"Bullying dengan menggunakan teknologi digital yang terjadi di media sosial, platform chatting, platform bermain gim, dan ponsel." â UNICEF
Sifat Berbahaya: Tidak pandang bulu dalam menyerang korban. Bahkan seorang influencer yang memiliki reputasi besar pun tidak luput dari serangan cyberbullying.
Terdapat lebih dari 3.800 laporan kasus resmi terkait cyberbullying.
Platform yang paling sering digunakan pelaku:
Meningkatnya kompleksitas kasus memerlukan intervensi edukasi yang efektif dan menarik bagi generasi muda.
Hanya dalam waktu satu tahun (2023)
Pendidikan pencegahan harus dikemas secara menarik agar dapat memicu kesadaran penonton.
Materi pembelajaran menjadi lebih visual, dinamis, dan relevan dengan audiens muda.
Kombinasi gambar bergerak dan audio memudahkan ingatan jangka panjang.
Edukasi Pencegahan Cyberbullying
Klik salah satu Rumusan Masalah untuk melihat Tujuan Penelitian yang bersesuaian.
Klik salah satu kartu di sebelah kiri untuk melihat tujuan yang berkaitan.
Proses Pembuatan Animasi & Perhitungan Analisis
Menentukan tujuan video, sasaran audiens (remaja usia 14-17 tahun), konsep penyampaian cerita menggunakan teknik storytelling dengan metafora visual (karakter Jaja dan Anbu) agar materi lebih mudah diterima oleh kelompok usia tersebut.
Membuat naskah, merancang alur cerita, mendesain konsep karakter utama (Fries) serta representasi komentar (Jaja dan Anbu), dan menyusun storyboard visual secara berurutan.
Melakukan pengisian suara (voice over), mengumpulkan backsound bebas hak cipta, efek suara tambahan, serta menggambar aset visual karakter dan latar belakang menggunakan aplikasi Ibis Paint X.
Mengimpor semua aset ke Alight Motion, menerapkan keyframe dengan teknik motion tweening untuk menciptakan animasi gerakan, menyinkronkan audio dengan gerakan karakter, lalu mengekspor hasil ke format MOV/MP4.
Menguji kelayakan media dan materi sebelum didistribusikan. Pengujian ini melibatkan 3 ahli materi (guru) dan 3 ahli media (content creator/animator) menggunakan skala Likert.
Penyebaran video edukasi pencegahan cyberbullying ke platform media sosial target, yaitu TikTok, agar dapat diakses oleh target remaja secara luas.
Pengumpulan umpan balik dilakukan melalui kuesioner skala Likert untuk mengukur pemahaman materi dan kepuasan visual, serta analisis statistik performa (views, likes, shares) pada platform TikTok.
Konsep Storytelling Metafora Visual. Klik kartu karakter untuk melihat detail cerita.
Tokoh Utama (15 Tahun)
Klik untuk InfoSeorang remaja biasa berumur 15 tahun yang aktif berselancar di media sosial.
Fries merepresentasikan audiens utama; dia belum menyadari sepenuhnya bahwa postingan atau aktivitasnya di media sosial dapat memicu komentar yang berdampak baik maupun buruk bagi dirinya.
Kembali
Komentar Negatif (Bullying)
Klik untuk InfoKarakter fiksi kecil berwarna merah gelap yang merepresentasikan komentar negatif dan rundungan siber.
Dalam video, Jaja digambarkan terus bertambah banyak dan menempel di tubuh Fries ketika dia mendapat rundungan, melambangkan beban mental psikologis yang memberatkan korban.
Kembali
Komentar Positif (Support)
Klik untuk InfoKarakter fiksi yang merepresentasikan komentar positif, dukungan emosional, dan pesan persahabatan.
Anbu digambarkan datang membantu Fries untuk mengusir dan memusnahkan Jaja. Ini menyimbolkan bahwa kata-kata baik dan dukungan moral mampu meringankan penderitaan korban cyberbullying.
KembaliRincian Narasi Visual, Voice-Over, dan Alur Waktu Adegan
đĄ Gunakan scroll di dalam tabel untuk membaca rincian visual & audio, atau klik tombol di sebelah kanan untuk tampilan penuh.
đ Buka Storyboard di Tab Baru âMenggunakan teknik Motion Tweening pada Alight Motion. Klik gambar untuk memperbesar.
Pembuatan sketsa karakter, ekspresi wajah, pose tubuh, dan latar belakang. Total aset gambar mencapai lebih dari 500 layer terpisah dengan total 62 shot.
Penerapan keyframe untuk mengatur pergeseran posisi, perubahan skala, rotasi, dan transisi gerakan. Gerakan karakter disinkronkan dengan dubbing suara (voice over) dan sound effect.
Evaluasi Media dan Materi oleh Validator Ahli
Pengujian dilakukan oleh para validator ahli berikut:
Coba pilih tingkat kepuasan di bawah untuk melihat skor persentase kelayakan:
Sangat Layak (Kualitas tinggi & sangat direkomendasikan)
Kesimpulan Pengujian: Berdasarkan penilaian para validator, video edukasi dinyatakan sangat layak untuk disebarluaskan di platform TikTok dengan saran minor pada akselerasi transisi.
Publikasi Video di TikTok & Pengumpulan Responden
Pada tahap distribution, video animasi yang telah melalui validasi ahli dipublikasikan secara publik di platform TikTok.
Selanjutnya, tautan video beserta kuesioner disebarkan kepada remaja berusia 14â17 tahun sebagai responden utama penelitian untuk mengukur tingkat kepuasan dan pemahaman materi.
Selain data kuesioner, dikumpulkan juga statistik performa video di TikTok untuk mengevaluasi efektivitas jangkauan (reach) media edukasi ini:
Statistik TikTok dan Analisis Respon Kuesioner
Pengamatan performa video di TikTok dilakukan selama 7 hari untuk mengukur reach dan engagement:
“Kondisi ini dipengaruhi oleh karakteristik platform TikTok yang cenderung mendorong konsumsi konten berdurasi pendek sehingga pengguna sering kali berpindah ke video lain dalam waktu singkat.”
Respon diperoleh dari 110 responden remaja berusia 14â17 tahun:
Responden menilai video memiliki tampilan menarik, bahasa mudah dipahami, serta materi relevan dengan kehidupan remaja.
Video terbukti mampu meningkatkan pemahaman dan kesadaran mengenai dampak cyberbullying bagi remaja.
Kesimpulan Keberhasilan Pengembangan & Evaluasi Media
Penelitian ini berhasil mengembangkan video animasi edukasi pencegahan cyberbullying menggunakan metode MDLC:
Meskipun dinilai sangat layak, terdapat aspek evaluasi penting untuk perbaikan konten video ke depan:
“Video masih perlu dikembangkan agar lebih menarik pada detik-detik awal konten sehingga dapat meningkatkan retensi durasi menonton rata-rata dan keterlibatan (engagement) audiens lebih lanjut.”
Hasil Kelayakan Media & Penerimaan Responden
Video animasi edukasi pencegahan cyberbullying berhasil dikembangkan menggunakan teknik motion tweening (metode MDLC) dan dinyatakan layak sebagai media edukasi berdasarkan hasil validasi ahli materi dan ahli media.
Hasil kuesioner terhadap 110 responden memperoleh nilai mean sebesar 4,31 (Sangat Layak). Hal ini menunjukkan bahwa video menarik, mudah dipahami, serta mampu meningkatkan pemahaman dan kesadaran remaja mengenai cyberbullying.
Masukan Para Ahli & Panduan Penelitian Selanjutnya
Disarankan untuk menambahkan gerakan mulut ketika karakter berbicara, serta menyesuaikan pencahayaan dan detail ekspresi karakter agar penyampaian emosi dalam animasi menjadi lebih kuat.
Sebaiknya menggunakan bahasa yang komunikatif dan sesuai dengan karakteristik remaja sehingga pesan edukasi dapat diterima dengan baik oleh target audiens.
Disarankan membuat durasi lebih singkat (untuk TikTok), jumlah responden lebih banyak, platform lebih beragam, serta menggunakan pre-test & post-test untuk hasil evaluasi yang lebih objektif.
Semoga Penerapan Animasi Ini Memberikan Dampak Positif Bagi Remaja
Teknik Informatika - STIKMA Internasional Malang
Metode penelitian kuantitatif dengan skala Likert yang mengacu pada buku karya Sugiyono yang berjudul Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D.
| Skor | Kriteria Kelayakan |
|---|---|
| 5 | Sangat Layak |
| 4 | Layak |
| 3 | Cukup Layak |
| 2 | Kurang Layak |
| 1 | Tidak Layak |
Berikut adalah rincian perolehan skor dari kuesioner kelayakan oleh Ahli Materi:
Berikut adalah rincian perolehan skor dari kuesioner kelayakan oleh Ahli Media: